(DCF hari ke 3) Menikmati Sajian Proses Budaya Dieng yang Khas

blog traveler | legenda anak rambut gimbal dieng

Blog Traveler – Jika di ibaratkan sebuah novel yang menceritakan tentang Dieng, maka artikel ini adalah penutupnya. Penutup manis dari tiga hari bersama teman – teman di acara Dieng Culture Festival. Sebelum gue melanjutkan cerita di hari ke tiga. Izinkan gue untuk membarikan rangkuman singkat perjalanan kami dua hari sebelumnya.

 

Hari Pertama

Ini adalah pertama kalinya gue menginjakan kaki di desa tertinggi di pulau Jawa. Perjalanan cukup panjang kami lalui dari Jakarta sampai dengan Dieng. Sesampainya  di Homestay, gue amazed  banget sama rumahnya. Bersih, nyaman, ada wifi dan sangat sesuai dengan harga yang diberikan. Kalau mau kontaknya lo bisa tanya langsung aja di sini ya : kontak us.

Di hari ini pertama ini kalo bisa gue bilang sih kegiatannya gak terlalu banyak sebenernya. Yang paling penting itu jangan lupa untuk menukarkan invoice pembelian paket Dieng Culture Festival dengan akses masuk dan berbagai perlengkapannya.

Setelah penukaran invoice, kita akhirnya kelilingin area yang dijadikan tempat festival budaya Dieng. Baru saat malam hari tiba kami dihangatkan dengan romantismenya jazz atas awan dari Dieng Culture Festival . Malam pertama dimeriahkan dengan aksi panggung Anji, dan sangat berhasil menghibur kita semua yang berkumpul malam itu.

Cerita lengkapnya bisa kalian lihat di sini :

romantisme dieng culture festival yang tidak terlupakan

 

Hari Kedua

Nah kalau di hari kedua ini kita lebih banyak kegiatannya, mulai dari cobain makanan khas dari Wonosobo sampai dengan mengelilingi tempat wisata Dieng Wonosobo. Hal pertama yang kita lakuin udah pasti tuh cobain makanan khasnya. Hayo ada yang tau gak? Makanan khas dari Wonosobo itu adalah mi ongklok.

Kita coba mi ongklok gak jauh dari tempat kita makan pertama kali di Dieng, terus rasanya gimana? Bisa langsung cek aja artikel sebelumnya tentang menyelami tempat wisata Dieng Wonosobo. Abis kenyang cobain yang namanya mi ongklok, kita lanjut lagi nih muterin tempat wisata Dieng.

Pertama kami ke telaga warna, salah satu telaga tertinggi di Indonesia. Kalau dari tempat sih cocok banget buat liburan bareng keluarga, di telaga warna juga bukan Cuma ada telaga aja loh ya tapi ada juga beberapa goa. Setelah itu kami lanjut ke batu pandang ratapan angin, disini kalian bisa melihat telaga warna dan telaga pengilon berdampingan dari atas bukit.

Tempat ketiga itu adalah kawah sikidang, di sini juga gak kalah serunya deh. Selain adanya kawah ternyata ada juga banyak spot foto keren yang sengaja di sediakan masyarakat sekitar untuk kalian yang mau bernarsis ria. Malam harinya masih sama dengan malam sebelumnya yaitu acara Jazz atas awan, yang berbeda adalah bintang tamunya dan juga ada penambahan acara yaitu menerbangkan ribuan lampion.

Mau tau gimana serunya malam itu ? cek artikel kami sebelumnya :

hari ke dua di dieng culture festival

 

Hari ke tiga

Nah ini dia bagian akhir dari serangkaian acara Dieng Cultue Festival , mungkin banyak juga dari kalian yang belum tau ya sebenernya Dieng Culture Festival itu apa sih? Siapa yang ngadain?

Gue ceritain nih sedikit, jadi Dieng Culture Festival itu adalah kegiatan festival budaya Dieng yang di gagasi oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Dieng Kulon. Tujuannya bukan lain adalah untuk melestarikan budaya Dieng. Takut kebudayaan mereka dilupakan oleh perkembangan zaman, maka Pokdarwis bekerjasama dengan seluruh warga Dieng dan pemerintah setempat juga untuk membuat acara yang bernama Dieng Culture Festival pada tahun 2009. Itulah awal mulanya acara DCF yang kita kenal sampai sekarang ini.

Nah terus kebudayaan apa sih yang di tonjolkan dalam Dieng Culture Festival ?

Hari ketiga inilah hari dimana upacara kebudayaannya dilaksankan, sayang banget gue sakit di hari itu karena gak pakai jaket pas muterin tempat wisata Dieng Wonosobo. Jadi kamera gue titipin di temen gue supaya bisa tetap ngambil gambar acaranya.

Terus gue tau dari mana kejadian di hari itu?

Ya gue minta ceritain sama temen gue biar bisa sharing juga ke kalian, seperti apasih gambaran acara di hari ketiga.

 

Asal usul si rambut gimbal Dieng

Ada suatu fenomena yang unik di Dieng, disana terkenal dengan adanya anak rambut gimbal Dieng. Fenomena rambut gimbal tersebut bukan sengaja dibentuk loh ya. Rambut gimbal Dieng itu tumbuh dengan sendirinya, gak perlu ada garis keturunan khusus untuk jadi anak rambut gimbal Dieng. Yang penting ada keturunan Dieng, siapapun bisa saja berambut gimbal.

Ada sebutan unik untuk anak rambut gimbal Dieng, biasanya mereka dipanggil “anak gembel”. Bukan karena mereka itu tidak dirawat ya, tetapi karena rambut mereka seperti itu maka banyak di kaitkan dengan orang yang jarang mandi. Konon katanya para anak rambut gimbal Dieng ini merupakan titipan dari Kyai Kolo Dete.

anak rambut gimbal dieng

Kyai Kolo Dete merupakan punggawa pada masa kerjaan Mataram, pada masa itu Kyai Kolo Dete ditugaskan oleh kerajaan untuk mempersiapkan pemerintahan di daerah Wonosobo bersama 2 orang temannya. Karena Wonosobo merupakan wilayah yang cukup luas maka Kyai Kolo Dete beserta istirinya mengambil tempat di dataran tinggi Dieng.

Sesampainya beliau di Dieng, beliau mendapatkan wahyu dari ratu pantai selatan. Pasangan tersebut ditugaskan untuk mensejahterakan masyarakat Dieng, Tolak ukur kesejahteraan masyarakat Dieng Wonosobo adalah dengan munculnya anak gimbal Dieng. Semakin banyak anak berambut gimbal maka semakin baik juga kesejahteraan mereka, begitu juga jika sebaliknya.

“Jika permintaannya tidak dipenuhi, rambut gimbal dipercaya akan tumbuh lagi, atau anak sakit-sakitan,” ujar Kepala Desa Dieng Kulon, Slamet Budiono

Nah para anak rambut gimbal Dieng ini hanya boleh dipotong rambutnya kalau si anak yang memintanya sendiri. Cara memotongnya juga gak sembarangan, harus ada prosesi khusus (ruwatan) yang dijalani. Ruwatan inilah yang jadi acara utama dalam Dieng Culture Festival.

 

Kirab

Hari ke tiga adalah hari dimana ruwat itu berlangsung, prosesi yang pertama itu namanya kirab. Sebenernya dari tempat gue nginep sih deket banget kalo mau liat kirabnya, tapi emang gue lebih milih istirahat daripada tambah parah sakitnya. Oke balik lagi ke prosesi pemotongan rambut gimbal Dieng.

kirab budaya dieng culture festival

Jadi kirab itu adalah iring iringan yang terdiri dari para sesepuh, para anak rambut gimbal Dieng, para pelaku seni tradisional, dan beberapa mobil yang dihias. Nantinya rombongan ini akan menggiring para anak rambut gimbal ke komplek Arjuna untuk melakukan prosesi selanjutnya.

 

Jamasan

Jamasan atau memandikan anak gimbal Dieng dilakukan di Sendang Sedayu atau Sendang Maerokoco tepatnya di utaea Darmasala Kompleks Arjuna. Untuk memasuki Sendang Sedayu, para anak rambut gimbal Dieng berjalan sambil dipayungi oleh payung robyong dan diiringi musik tradisional.

pencucian rambut gimbal dieng

Nah katanya sih, air yang digunakan untuk memandikan si anak rambut gimbal Dieng ini juga harus sudah ditambah bunga tujuh rupa dan sumber airnya juga diambil dari beberapa tempat di kawasan Dieng, seperti Tuk Goa Sumur, Tuk Kencen dan masih banyak yang lainnya.

 

Pencukuran

Prosesi dilakukan oleh para tokoh masyarakat, atau bisa juga bintang tamu di ajak. Seperti waktu tahun 2016 si Anji juga ikut tuh nyukurin anak gimbal Dieng. Ohh iya sebelum para anak ini rambutnya dicukur para orang tua harus mengabulkan permintaan sang anak. Mintanya ya bisa macem macem tuh, ada sepedah, ada kambing dan lain lain. Konon kalau permintaan sang anak tidak dikabulkan, rambut gimbal akan terus tumbuh dan yang lebih parahnya lagi akan terjadi petaka buat sang anak.

pencukuran rambut gimbal

Setelah upacara pencukuran rambut selesai, maka selanjutnya akan dilakukan dengan tasyakuran dan doa. Tidak lupa semua uba rampai (sesajian) dibagikan kepada semua pengunjung karena dipercaya dapat memberikan berkah.

Sebenernya temen temen gue Cuma sampai sini aja ikutin acaranya karena kita harus pulang dan mengejar kereta agar tidak terlambat. Karena menurut pengalaman orang yang sudah pernah ke Dieng Culture Fesitval, jalanan pasti macet kalo lo pulangnya sampai acara selesai.

Tapi sebenernya ada dua ritual lagi yang harus dijalanin, gue akan coba rangkum untuk kalian

 

Ngalap berkah

Ngalap berkah dilakukan tidak jauh dari lokasi pencukuran yang dipercaya masyarakat sekitar bisa mendatangkan berkah bagi yang mengikutinya. Selamatan dilaksanakan dengan memperebutkan tumpeng dan makanan.

Ngalap berkah dipimpin oleh pemangku adat dan tokoh tokoh setempat.

 

Larungan

Nah abis acara cukuran rambut gimbal Dieng selesai, maka prosesi ditutup dengan pelarungan rambut gimbal. Dimana rambut tersebut dihanyutkan di sungai Serayu yang nantinya aliran air tersebut hanyut ke Laut Selatan.

larungan rambut gimbal dieng
Photo by : http://travel.kompas.com

Yup itu dia seluruh rangkaian acara yang ada di hari ke tiga dari Dieng Culture Festival . Walaupun hari itu gue lagi sakit, semoga cerita yang gue share ini masih bisa memberikan gambaran buat kalian semua yang mau main ke Dieng dan melihat kebudayaan Dieng yang sangat unik.

Buat gue pribadi, diluar dari adanya fenomena rambut gimbal Dieng yang unik. Dataran tinggi Dieng memberikan kesan tersendiri, dinginnya, suasananya, masyarakatnya apalagi kalo lo dateng pas acara Dieng Festival. Gak akan nyesel deh main kesana, pasti berkesan.

Oke gitu aja deh artikel gue yang kali ini, semoga bermanfaat, kalo kurang bermanfaat coba ambil sisi baiknya supaya bermanfaat hahahaha

Jangan lupa dukung kita dengan Share artikel ini di media social kalian, salam hangat salam lestari.

Dongengtravel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *