Menyelami Tempat Wisata Dieng Wonosobo di DCF Hari ke Dua

tempat wisata dieng wonosobo

Menikmati pesona dari negeri para dewa dewi memang tidak bisa dihabiskan hanya dengan satu hari saja. Kebetulan dalam Dieng Culture Festival acaranya berlangsung selama 3 hari. Setelah kemarin sukses berkenalan dengan lokasi festival di Dieng, dan dibawa menyelami romantisme Jazz atas awan bersama Anji. Kali ini di hari kedua kami akan menjelajah lebih jauh serta menikmati suguhan wisata Dieng Wonosobo.

Masih ingat sama tempat makan yang gue ceritain di artikel sebelumnya? Kalau belum tau atau lupa mending dibaca dulu deh artikelnya supaya lebih nyambung :

romantisme dieng culture festival yang tidak terlupakan

Mari kita lanjutkan,

Rasanya aneh ya, kalau kita sedang ada dalam acara budaya tapi kok gak cobain makanan khas dari daerah tersebut. Ayo ada yang tau gak makanan khas dari Dieng Wonosobo apa? Makanan khas daerah Wonosobo itu adalah Mi Ongklok.

Karena homestay kita yang homie banget, dan udara Dieng yang dingin dipagi hari makanya kita baru keluar itu jam 11 lewat (padahal sih emang males gerak). Kita cobain mie ongklok di kedai ongklok, lokasinya ada di sebelah tempat kita makan hari kemarin.

Sekilas gue sempet liat penampakan mi ongklok ini di google sebelum pergi ke Dieng. Gue kira mi ongklok ini mirip sama bakmi jawa, tapi ternyata gue salah. Mi ongklok itu bentuknya seperti mi kuning disajikan dengan kuah kental berkanji yang dicampur dengan kol dan potongan daun kucai. Biasanya ditemani dengan beberapa tusuk sate, bisa sate ayam atau sate kambing.

tempat makan mi ongklok di dieng wonosobo
Kedai Ongklok

Buat kalian penikmat makanan khas yang lezat, mungkin kedai ongklok ini bukan pilihan tepat. Menurut gue rasa mi ongkloknya itu biasa aja, satenya keras dan masih tercium bau kambingnya. Tapi yaudahlah yaa, yang penting gue udah cobain deh tuh makanan khas dari Wonosobo. But next gue harus coba nih yang cita rasanya asli dan legendaris di Wonosobo biar tau perbedaannya.

Menjelajah tempat wisata di Dieng adalah agenda utama siang hari ini. Sebagai informasi aja, dari tempat kami menginap yaitu di tengah kawasan dekat Candi Arjuna ke berbagai tempat wisata Dieng itu cukup jauh.

Disarankan bagi yang bawa kendaraan bisa menggunakannya untuk berkeliling, atau minimal sewa motor deh.

Keberuntungan seperti memihak pada kami, siapa sangka karena bang Viki udah pernah sewa homestay yang sama tahun lalu akhirnya kita dapat pinjaman motor dari si pemilik homestay (free 100%). Masalahnya motor cuma 1, orangnya ada 9 jadi harus gantian diangkutnya hehehe yang belum dapat giliran harus jalan sedikit demi sedikit ke tempat wisata tersebut.

naik motor di wisata dieng wonosobo
Giliran gue lagi dapet naik motor

 

Telaga Warna

Tempat wisata Dieng Wonosobo yang pertama kita datengin itu adalah Telaga Warna. Karena kami peserta Dieng Culture Festival, maka kami tidak harus membayar tiket masuk ke Telaga Warna. Dari namanya aja kita udah bisa tebak, yup! Betul wisata alam ini menampilkan sebuah telaga dengan air berwana yang indah.

Sebelum masuk lebih jauh ngebahas tempat ini, ada satu pedagang kue pancong yang enakkkkkkk banget kue nya. Maaf salah fokus tapi beneran deh, pas banget sama cuaca Dieng yang dingin, ditemani dengan barisan kue pancong setengah matang bertoping gula pasir.

kue pancong di wisata dieng wonosobo
Asli ini Kue Pancong enak banget

Oke fokus!

Keunikan dari telaga ini airnya bisa berubah warna, waktu gue dateng warnanya lagi hijau dan katanya bisa berubah jadi kuning ataupun pelangi. Kenapa bisa begitu? Karena airnya mengandung sulfur. Telaga warna ini dikelilingi oleh barisan bukit indah, tidak heran kerena telaga ini berada di ketinggian 2000Mdpl dan dinobatkan sebagai salah satu telaga tertinggi di Indonesia.

tempat wisata di dieng telaga warna

objek wisata dieng telaga warna

Di sekitar telaga ini ada banyak tempat duduk, arena bermain seperti flying fox, dan juga beberapa Goa. Nah masih inget kan sama Chika? Si anak Jepang yang ikut sama kita di Dieng. Ternyata si Chika ini anaknya berani juga.. hahaha. Dia mau naik flying fox loh!! Dan ternyata dia happy banget tuh.

flying fox di telaga warna
ada flying fox juga loh

Jadi menurut gue telaga warna ini tempat yang cocok untuk keluarga, suasananya santai dan fasilitasnya juga lengkap. Oh iya gue gak sempet muterin tempat ini, karena memang lumayan cukup besar. Kalau kalian nanti ke sini lebih baik dari pagi ya..

 

Bukit Batu Pandang Ratapan Angin

Tempat kedua dari list wisata Dieng Wonosobo yang kita datangi itu namanya bukit batu pandang ratapan angin. Kalau kalian tadi udah ke telaga warna, posisi bukit batu pandang ini gak jauh dari sana. Kalian hanya harus mengikuti jalan naik ke atas, tapi tetep ya kalau jalan kaki sih lumayan pegel naiknya.

bukit batu pandang ratapan angin
Bayar 10rb untuk masuk kesini

 

Sangat disayangkan untuk tiket masuk tempat yang satu ini tidak termasuk dengan acara Dieng Culture Festival. Untuk dapat masuk ke bukit batu pandang ratapan angin ini kalian cukup membayar Rp10.000 per orang.

So ada apa aja sih disini?

burung hantu di batu pandang ratapan angin

Sebenarnya tempat ini adalah sebuah tebing, tapi yang buat tempat ini special adalah pemandangan yang ditampilkannya. Dari atas sini kalian bisa melihat dua buah telaga berdampingan, yaitu telaga warna dan telaga pengilon.

batu pandang ratapan angin dieng

Untuk bisa mencapai spot foto sebagus di atas itu kalian harus berjalan naik sedikit, gak perlu takut karena jalurnya sudah dibuat tangga dan sangat nyaman. Gue bisa bilang, kalo lo gak akan nyesel sih main kesini.

 

Kawah Sikidang

Di sekitar kawasan Dieng emang banyak banget terdapat kawah, salah satu yang kita kunjungin itu namanya Kawah Sikidang. Tempat ini tidak jauh juga dari kedua tempat yang kita kunjungin sebelumnya.

kawah sikidang objek wisata dieng

Untuk masuk ke kawasan ini kalian tidak harus membayar sepersenpun, alias gratis. Keunikan yang ditonjolkan dari tempat wisata Dieng Wonosobo yang satu ini adalah kawahnya yang banyak. Konon rata-rata sekali dalam 4 tahun, kolam kawah akan berpindah lokasi seolah –olah melopat dalam satu kawasan. Itu kenapa tempat ini dinamakan Kawah Sikidang, karena sikidang  adalah plesetan dari si Kijang.

kawah sikidang
ini dia kawahnya

 

kawah sikidang landscape dieng
kawah Sikidang

Di sini banyak disediakan properti foto yang cukup menarik, mulai dari ayunan pohon, burung hantu, patung gorila (artinya apa coba gorila di kawah?), dan masih banyak yang lainnya. Untuk memakai properti tersebut kalian harus membayar dan meletakan uangnya ke dalam ember di dekat properti tersebut.

spot foto di kawah sikidang
Salah satu spot foto di kawah sikidang

Tapi miris,

Gue harus jujur, nuansa alamnya itu sama sekali gak berasa banget. Udah terlalu banyak jasa yang ditawarkan dalam kawasan ini sehingga kawasan alam ini kaya taman bermain aja. Contohnya penyewaan motor trail, what?? Menurut gue gak seharusnya ada penyewaan motor trail di sekitar kawah.

Yang bikin gue makin miris adalah banyaknya, bukan banyak lagi tapi buanyaaakkkk banget!! Pedagang oleh-oleh yang menjual bunga edelweiss dalam pot kecil. Ya ampun miris banget gue liatnya, tapi gue gak tau harus ngapain dan gimana caranya buat edukasi mereka?

edelweiss
Miris! edelweiss di perjual belikan sebagai oleh – oleh

So pliss, buat temen – temen yang baca artikel ini dan main ke kawah sikidang bisa liat sendiri nanti. Kasih tau gue kalo lo punya cara jitu untuk edukasi mereka, dan gue salut juga kalau kalian bisa kasih tau mereka langsung. Mungkin gue cuma bisa saranin langkah pertama adalah ya “jangan” beli oleh – oleh yang menjual bunga edelweiss.

Sebenernya masih banyak lagi tempat seru di sekitar Dieng Wonosobo yang bisa lo datengin, tapi karena rangkaian acara Dieng Culture Festival masih ada nanti malam akhirnya kita sepakat untuk selesai menjelajah wisata Dieng Wonosobo.

Pulang ke homestay  dari kawah sikidang bukanlah perkara yang mudah saat itu. Seperti yang udah gue bilang di awal artikel kalau motor yang dipinjamkan ke kita itu hanya 1 motor hahahaha. Akhirnya, dengan berjiwa patriot dan semangat anak muda masa kini yang menjunjung satu rasa. Akhirnya gue, Verina, Dika, Febi, dan Hendra jalan kaki ke homestay.

balik ke homestay dari kawah sikidang
45 Menit perjalanan ke Homestay

45 menit kita habiskan dijalan dari Kawah Sikidang menuju homestay, bukit dan hamparan tanaman hijau yang indah menemani kami selama perjalanan. Untung cuaca dan angin sangat bersahabat, perlu dicatat matahari memang terasa dekat dengan kami tetapi angin sejuk negeri dewa dewi ini mampu menyemangati perjalanan kami.

Setelah sampai di homestay sesuatu yang sangat jarang kejadian sama gue selama traveling dan yang paling gue benci akhirnya kejadian. Iya gue sakit masuk angin plus radang tenggorokan, sial banget deh. Mungkin karena cuacanya dingin Dieng gak bikin kita gak terasa haus, makanya kita jadi jarang minum air putih ditambah juga ternyata gue belum makan nasi dari pagi.

Hidden tips : Karena Dieng memiliki udara yang dingin dan sejuk, kadang kita jadi lupa minum air putih. So jangan lupa jaga kesehatan di Dieng karena anginnya yang kencang.

Jazz atas awan akan tetap ada di malam hari kedua ini, dan disempurnakan dengan penerbangan lampion yang bisa menyihir wisata Dieng Wonosobo menjadi lebih romantis. Dua acara tersebut pastinya gak akan bisa gue lewatin gitu aja.

Akhirnya malam tiba, dengan fisik yang sebenernya masih gak enak. Gue paksain buat ikut acara malam ini, dinginnya Dieng malam hari terasa 2 kali lipat lebih menusuk dari biasanya kalau sedang sakit kaya gini. Berbekal jaket gunung akhirnya gue dan yang lainnya pergi ke panggung utama Dieng Culture Festival.


Liburan makin asik dengan aplikasi Langitmusik, Baca review lengkapnya di sini : Langitmusik bikin kamu 50.000 kali ke Jeddah


Diluar dugaan animo masyarakan sekitar Dieng Wonosobo malam hari itu luar biasa, lapangan dipenuhi banyak orang. Sangat ramai sampai sampai kami harus saling bergandengan agar tidak terpencar.

Beruntungnya memang panitia telah menyiapkan ruang terpisah antara kami yang beli tiket Dieng Culture Festival, dengan yang tidak. Untuk kalian yang beli tiket acara akan dibatasi pagar besi dengan yang tidak membeli tiket acara.

Gue sangat menyarankan untuk kalian yang mau ikut acara Dieng Culture Festival untuk beli tiketnya, karena memang kenyamanannya sangat dijaga panitia.

Ribuan Lampion di Langit Dewa Dewi

Beberapa musisi lokal tanah Jawa bergantian meramaikan acara sampai akhirnya bintang tamu malam itu yang disembunyikan panitia muncul.

Tebak siapa?

Katon Bagaskara, yes jujur gue emang tau banget beliau tapi gue kurang mengikuti hasil karya beliau. Hanya ada beberapa lagu Katon Bagaskara yang gue tau, tapi malam itu Katon seakan berhasil menerobos zaman dan membuat kami semua generasi muda dan generasi senior bernyanyi bersama beliau.

katon bagaskara di dieng culture festival
Katon on stage

jazz atas awan

“Negeri di Awan” lagu Katon Bagaskara yang menjadi salah satu senjata pamungkas malam itu tidak lupa dibawakan. Judul dan suasananya sangat mendukung dan berhasil mengembalikan romantisme Dieng Culture Festival di hari pertama.

Selesai lagu terakhir dimainkan bukan berarti selesai juga acara dimalam itu, menerbangkan 1000 lampion di atas negeri dewa dewi adalah target selanjutnya. Pembawa acara malam itu mempersilahkan kami untuk menyiapkan lampion kami, ohh iya lampion ini sudah termasuk kedalam paket pembelian tiket acara yaa, jadi kalian gak perlu beli lampion lagi.

pesta lampion hari ke dua

pesta lampion dieng culture festival

Pesannya adalah, jika kalian berhasil menerbangkan lampion tersebut keudara maka apa yang kalian doakan akan terkabulkan. Malam itu indah, ribuan lampion berhasil menggantikan cahaya bintang Dieng Wonosobo. Sederhana, namun sangat membekas sampai sekarang bagaimana rangkaian acara di Dieng Culture Festival hari kedua ini berlangsung.

Kemarin malam terasa sangat indah buat gue, gak nyesel deh gue paksain ikut acara semalem walaupun lagi sakit. Tapi rangkaian Dieng Culture Festival belum selesai, masih ada hari ketiga tapi gue malah sakit.

Mau tau gimana kelanjutannya??

Tunggu Dieng series di hari ketiga ya..

Salam hangat Dongengtravel, kalau kalian suka dengan cerita ini jangan lupa untuk share ke media social kalian. Gue sangat bahagia jika kalian mau share, untuk yang mau hub gue bisa langsung aja ke Contact us.

Kita juga bisa ngobrol loh di kolom komentar, jangan lupa tinggalkan komentar. Terimakasih

 

 

Comments

  1. Latoya

    You have to do a great deal guidebook website optimization and also develop several back
    links to dominate search engines and also be on leading with your key phrase.

  2. Dyah

    Tiga tahun yang lalu gue dan teman-teman (berenam, kalau nggak salah ingat), ikut DCF. Tapi kami dari berenam, cuma dua yang lampionnya bisa terbang. Sisanya robek semua. Huhuhu …
    Oh ya, kalau di Dieng, yang ada di pikiran bukan keindahan alamnya, tapi kapan makannya … soalnya dingin banget! Laper.

    1. Post
      Author
      Dongengtravel

      hahahhaa iyaa iyaa, cobain nongkrong pas malem di warung kopi sekitar dieng gak?? enak banget rasanya tuh ya hahahaha
      pasti kita juga lupa minum soalnya dingin bange jadi gak berasa haus juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *