Romantisme Dieng Culture Festival yang Tidak Terlupakan

“Kau mainkan untukku, Sebuah lagu tentang negeri di awan, Dimana kedamaian menjadi istananya” sepenggal lirik lagu yang kalau gue denger selalu berhasil ngebawa gue balik ke suasana di Dieng Culture Festival 2017.

Perjalanannya emang udah lama berlalu, tetapi Dieng Culture Festival berhasil meninggalkan pengalaman yang sampai saat ini selalu gak bisa dilupain. Berawal dari ajakan iseng temen kantor, “eh ke Dieng Culture Festival yuk?” heemm jujur emang gue ada ketertarikan sih buat kesana karena penasaran mau liat kaya gimana sih festival budaya tuh.

Tanggal 3 Agustus 2017, akhirnya waktu yang udah lama kita tunggu datang juga. Sebelum jam pulang kantor, tidak lupa kita print invoice tiket Dieng Culture Festival yang udah kita beli dari bulan Mei dengan harga Rp300.000/tiket. Dengan harga segitu lo udah dapet banyak banget merchendise, akses khusus kedalam tempat acara dan gratis masuk ke beberapa tempat wisata sekitar Dieng Plateu.

Berbeda dari hari biasanya, dengan wajah senang karena bisa liburan lagi. Gue dan 3 temen kantor gue yang lain pulang sangat tepat waktu. Karena tiket kereta yang kami pesan untuk ke Purwokerto saat itu berangkat jam 22:10. Akhirnya kita sepakat untuk kumpul di Stasiun Senen jam 9 malam.

Tiket kereta PP Jakarta – Purwokerto saat itu kami dapatkan cukup terjangkau. Berbekal mindset ingin liburan hemat, kami memanfaatkan promo Tokopedia dan hanya mengeluarkan uang Rp240.000 untuk Tiket Kereta PP.

Jam 9 pas, gue yang biasanya gak pernah dateng tepat waktu kali ini harus merasakan datang paling awal.  Kemarin kita sempat iseng cek website KAI, dan ternyata tiket kereta di tanggl gue berangkat ini ludes terjual. Gak heran kalau stasiun Senen juga ramai dipadati banyak orang,

20 menit gue nunggu akhirnya ada chat masuk “mas, gue udah sampe nih lo dimana?”. Yes akhirnya Dika sampe dengan membawa tiket kereta yang udah ditangan, karena sebelumnya emang gue nitip untuk menukarkan kode booking Tokopedia dengan tiket asli sebelum ketemu gue.


Sebelum ke Dieng, gue juga main ke Gunung Cikuray, di cek Pendakian Gunung Cikuraynya ya !


Setengah jam kemudian, satu lagi teman kita dari Bandung datang. Dia namanya Febi, anak magang di kantor kita. Wah sukur deh, tinggal nunggu 2 orang lagi yaitu Verina dan Hendra. Jam udah menunjukan pukul 22:00, dan orang – orang udah antri buat masuk ke dalam Kereta.

Akhirnya yang ditunggu datang juga, tanpa menunggu lama kami ikut bergabung dalam antrian masuk kereta tujuan Purwokerto. Hanya 10 menit mengantri, dan kami sudah bisa duduk manis di kursi kereta.

Perjalanan ke Dieng Culture Festival 2017 dimulai..

Gambaran bagi kalian yang belum pernah naik kereta ekonomi ke luar kota, tempat duduknya itu berhadapan 3 orang – 3 orang. Karena kami berjumlah 5 orang, alhasil salah satu kursi kami ditempati oleh orang lain.

suasana kursi kereta ekonomi

 

Sekitar 1 jam perjalanan, kami baru tau kalau orang “asing” yang duduk bersama kami itu namanya Mba Eka. Ada cerita unik tentang Mba Eka, beliau punya nama yang panjang banget sampai 11 suku kata. Beliau juga punya kelebihan indra ke enam, cerita – ceritanya berhasil membunuh waktu kami sampai akhirnya kereta berhenti untuk istirahat selama 20 menit di stasiun Cirebon Parujakan.

kereta istirahat
kereta istirahat sejenak

Dari stasiun Cirebon Parujakan menuju Stasiun Purwokerto itu menghabiskan waktu 2 jam. Sesampainya di Stasin Purwokerto, gue segera menghubungi Bang Viki. Bang Viki ini gue kenal dari forum Backpacker Indonesia, jadi ceritanya gue sempet buka thread disana untuk cari barengan sewa homestay demi menghemat budget.

Akhirnya gue ketemu sama Bang Viki, dia datang bersama kakaknya dan 2 orang anak perempuannya. Kakaknya itu punya suami orang Jepang, dan sudah tinggal bersama 2 putrinya di Jepang. Mereka datang ke Dieng Culture Festival untuk mengenalkan sebagian budaya Indonesia kepada putrinya.

Kami melanjutkan perjalanan menggunakan mobil yang sudah kami sewa sebelumnya, untuk menuju Desa Dieng. Jam setengah 5 pagi kami memulai perjalanan dan menghabiskan waktu sekitar 3 jam.  Rasa penasaran kami tentang kehidupan di Jepang seakan memangkas jenuh melihat jalanan yang juga masih gelap. Perbincangan ringan dalam mobil seakan membuat kami menjadi keluarga kecil yang sedang pergi liburan bersama.

hari ke dua di dieng culture festival

Gak kerasa mobil sudah parkir di halaman homestay kami, sebuah rumah minimalis hasil rekomendasi Bang Viki yang berhasil membuat kami merasa senyaman dirumah sendiri. Tahun lalu Bang Viki ini udah pernah datang ke Dieng Culture Festival dan menginap di homestay yang sama.

Tukarkan invoice pembelian tiket acara kalian dengan kartu peserta dan beberapa merchendise menarik DCF

Karena peraturan dari panitia Dieng Culture festival untuk menukarkan invoice pembelian tiket dengan kartu akses dan merchendise acara buka dari jam 9 pagi. Jadinya 1 jam adalah waktu yang cukup buat gue dan yang lainnya untuk sekedar meluruskan kaki serta merebahkan badan di homestay. Setelah itu kami keluar untuk sarapan dan menukarkan invoice.

yuki di acara dieng culture festival
Yuki senang karena kami ingin makan pagi

cari makan pagi di dieng

Saat keluar rumah matahari pagi memang tidak segan untuk menyapa, tapi dinginnya tiupan angin desa Dieng Progo terbukti tidak ada tandingannya. Gak heran, karena desa ini merupakan desa tertinggi di tanah Jawa. Tidak begitu lama kami berjalan dari homestay sampailah kami di salah satu tempat makan. Namanya Warung Makan Mb In, posisinya ada di samping jalan persis sebelum gapura Dieng Culture festival.

makan pagi di dieng
ini dia warung tempat kami makan pagi

Warung ini menyediakan banyak lauk untuk kita santap. Tapi menurut gue dengan keadaan cuaca kaya gini, soto ayam panas dengan nasi putih adalah pilihan tepat. Sebelum gue kesini, gue sempet liat review dari teman-teman yang udah duluan dateng ke DCF tahun sebelumnya kalau makan di kawasan Dieng itu mahal. Ternyata itu gak terbukti sama sekali di warung ini, gue pribadi hanya membayar Rp12.000 untuk satu porsi soto + nasi dengan teh hangat.

menu makanan di warung dieng
saatnya memilih menu makanan

Setelah kenyang, kami kembali ke tujuan awal kami yaitu untuk menukarkan invoice dengan kartu akses Dieng Culture Festival 2017 dan beberapa merch. Karena kordinasi dan matangnya persiapan panitia acara. Kami tidak menemukan kendala apapun untuk proses penukaran ini. Baru sadar ternyata banyak juga yang di dapat, dan akhirnya kami putuskan untuk menaruh semua ke dalam homestay.

gapura jazz atas awan dieng

anak jepang di dieng culture festival

penukaran tiket dieng
tempat penukaran tiket Dieng

Kesempatan untuk berlibur ke Dieng ini sangat kami manfaatkan sebaik-baiknya. Explore adalah hal yang tepat mengingat acara di hari pertama ini akan mulai seru di malam hari. Dimulai dengan menyusuri area panggung utama dan melewati padang rumput dengan beberapa spot foto menarik. Sampailah kami di camp gorund area yang sudah di sediakan panitia Dieng Culture Festival 2017.

menjelajah dieng culture festival
tim bolang menjelajah kawasan Dieng
Dieng festival
Hendra in frame

 

Camp ground area yang disediakan sangat menarik, dipercantik dengan beberapa dekorasi khas perkemahan membuat siapapun yang bermalam disini akan merasa nyaman kalau menurut gue. Lagipula lokasinya juga gak berjauhan dengan Candi Arjuna yang nantinya akan menjadi panggung acara utama pemotongan rambut gembel.

camp ground dieng

tempat kemah di dieng

Perjalanan ala “bolang” kami lanjutkan kembali untuk mengunjungi Candi Setyaki, salah satu candi yang masih jadi bagian dari Candi Arjuna. Gue pernah ngebahas tentang candi ini di instagram gue, cek fotonya ya klik aja _pratamadhit.

candi setyaki

Waktu seperti berlari, gak sadar ternyata matahari sudah di atas kepala kami. Itu bertanda bahwa siang sedang menunjukan jati dirinya, perut kami pun sudah tau jadwalnya untuk di isi kembali. Kami akhirnya kembali ke homestay, tapi sebelumnya kami sempatkan mampir ke minimarket untuk membeli perbekalan makan siang kami untuk dimasak.

Setelah sampai homestay, agenda selanjutnya sudah pasti menghabiskan hasil masakan sederhana kami. Selanjutnya? Tidur…. adalah kegiatan tepat karena kami sebenarnya sangat kurang tidur diperjalanan. Lagipula memang target kami adalah acara musik dan kembang api nanti malam.


Mari Berdiskusi : Apa Manfaat Traveling Buat Kalian? dan Kenapa Harus Traveling?


Suasana tempat tinggal sementara kami ini memang sangat nyaman, gak sadar gue cepet banget ketiduran. Sampai akhirnya suara Dika ngebangunin gue, ternyata udah jam 5 sore. Dengan setengah sadar akhirnya gue paksain mandi dan berkenalan dengan air yang SUPER dingin.

Setelah semua selesai bergantian mandi, dan sholat akhirnya kita pergi keluar buat nonton acara malam ini. Perlu lo tau, kalau dinginnya malam hari di Dieng itu luar biasa. Anginnya kenceng, dan gue iseng cek ternyata sempat menyentuh 4 derajat.

Pada malam hari suhu di kawasan Dieng sangatlah dingin, persiapkan jaket tebal untuk menghangatkan tubuh kalian

Tapi sebelum menuju panggung utama Dieng Culture Festival 2017, gak afdol rasanya kalo gak foto di papan nama Dieng. Lokasinya ada di samping jalan utama kawasan ini, jadi gak susah kok buat ditemuin. Dengan tersimpannya gambar di memory kamera berarti sudah sah kalau kita pernah berkunjung ke Dieng hehehe.

papan nama Dieng

Bang Viki sempet bilang kalau yang bikin kangen dengan acara ini adalah waktu suasana malamnya. Semua terbukti ketika kami berjalan menuju panggung utama, gimana gak bikin kangen sama suasananya. Dari awal masuk gapura Dieng Culture Festival aja susananya udah di setting sangat etnik dengan obor api berdampingan kanan kiri menuntun kami sampai ke lapangan luas tempat acara utama malam ini berlangsung.

Begitu sampai, gue sangat mengapresiasi tata panggungnya dan suasana masyarakatnya yang terasa hangat. Emang siang tadi gue sempet lewat samping panggung utama ini, tapi gak nyangka disaat malam bisa sangat seindah ini ditambah dengan setting lampunya yang beragam.

panggung utama dieng culture

Perlu kalian tau disekitar panggung utama banyak berjajar tempat jajan ataupun merchendise yang bisa memanjakan kalian. Alunan musik live yang dimahkotai dengan panggung indah memang lengkap jika dipadukan bersama susana dingin dan alam desa Dieng. Tapi akan lebih indah jika tangan ini bisa menggenggam secangkir kopi hangat.

kopi mantap dieng
kedai kopi pinggir panggung utama

Maka dari itu kami sempatkan mampir ke salah satu stand yang menjual kopi hangat. Cukup lama menunggu, akhirnya kopi datang. Benar aja paduan ini memang melengkapi malam ini jadi lebih indah.

Cukup lama kami berada di luar area panggung utama sambil mendengarkan alunan lagu yang dibawa bergantian dengan beberapa musisi. Tidak terasa sepertinya sudah memasuki waktu bintang utamanya akan menghibur. Akhirnya kami semua masuk kedalam area panggung utama Dieng Culture Festival.

Sempat ada beberapa gimmick yang diseting sederhana hasil kerjasama pembawa acara dengan panitia demi mengelabui para penonton, sampai akhirnya suara khas Anji atau yang lebih dikenal dengan Anji Drive mulai terdengar. Sorak senang penonton seakan menghidupkan kembali suasana malam itu dan pertujukan kembali berlanjut.

panggung utama dieng festival
Romantisme Dieng mulai terasa

tata panggung dieng

manji di dieng
Anji Show

Anji yang memiliki channel Youtube “dunia MANJI” memang pandai mengambil hati para penonton dengan set lagu – lagunya yang syahdu. Tanpa sadar kami ikut bernyanyi dan terbawa hangatnya suasana JAZZ ATAS AWAN Dieng Culture Festival 2017.

Malam yang indah, bahkan saat gue ketik blog ini aja gue masih sangat rindu dengan susana panggung JAZZ ATAS AWAN yang menyatu dengan alam, romantis mungkin kata yang tepat untuk menggambarkannya.

“Oh Tuhan… kucinta dia. Ku sayang dia, rindu dia, inginkan dia. Utuhkanlah…. rasa cinta dihatiku. Hanya padanya….untuk dia..” serentak semua penonton ikut bernyayi. Lagu “Dia” menjadi penutup manis dari acara JAZZ ATAS AWAN 2017. Bukan penutup sesungguhnya, karena penutup acara sebenarnya adalah pesta kembang api.

pesta kembang api dieng kembang api dieng

Dengan habisnya pesta kembang api maka berakhirlah kemerihan Dieng Culture Festival 2017 di hari pertama. Panitia mampu menyulap desanya dengan sangat baik, acaranya juga baik dan sangat berkesan.

Tapi ceritanya belum selesai, untuk kalian yang mau tau tempat wisata Dieng Wonosobo lebih jauh gue udah bahas di postingan hari kedua kalau mau baca bisa liat di sini ya :


Menyelami Tempat Wisata Dieng Wonosobo di Hari ke 2 DCF


Jangan lupa juga buat share ke teman teman kalian, siapa tau cerita perjalanan gue bisa menjadi sumber inspirasi bagi siapapun. Salam hangat dari gue Dongengtravel. Salam lestari..

Comments

  1. Pingback: 50 Ribu Kali Ke Jeddah Dengan Koleksi Lagu di Langit Musik

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
  2. khairulleon

    Aku pernah ke Dieng tapi belum pernah ikutan festival kaya gini,
    dulu aku ikut open trip gitu harganya sekitar 500 ribu,
    eh pas ada opentrip ke Dieng plus festival ternyata lebih mahal bisa nyampe sejuta.
    ternyata kita harus beli tiket Jazz juga ya haha. 300 ribu mahal juga 🙁

    1. Post
      Author
  3. Fanny F Nila

    Dari sekian banyak kota d indonesia, aku paling cinta, dan ga akan pernah bosen, dengan Dieng. Alasannya 1, aku ga kuat panas. Jd dieng bener2 tempat yg cocok krn dingin :p. Suka ama semua tempat wisatanya, candi, kawah candradimuka, puncak sikunir dll.. Pgn ih liburan ksana lagi. Kmrn itu jg dpt homestay yg ownernya ruamaaah bangetttt. Terkesan bener kita tinggal di sana 🙂

    1. Post
      Author
      Dongengtravel

      parah mba, saya dapat homestay yang nyaman banget banget banget, bayangin yaa semua lantainya dikasih karpet. Jadi kita gak akan kedinginan, plus ada wifi pulak ya allah cinta banget deh hahaha

    1. Post
      Author
  4. Pingback: (UPDATE) Pilihan Tempat Wisata Dieng Wonosobo Terbaik Saat DCF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *